Mengapa Pinjaman Mobil Meningkat di Segmen Prime Rendah

AFC Japan Indonesia – Dalam dua kuartal terakhir, terjadi lonjakan signifikan pada pengajuan kredit mobil dan sewa di tingkat risiko yang sedikit lebih baik dari subprime, dibandingkan tahun sebelumnya. Data terbaru dari Federal Reserve New York menunjukkan bahwa peningkatan ini terjadi pada rentang skor kredit antara 620 hingga 659.

Laporan mengenai utang rumah tangga dan kredit untuk kuartal kedua 2026 menyebutkan bahwa kualitas kredit untuk utang mobil baru sedikit menurun dibandingkan tahun lalu. Di kuartal kedua 2026, skor kredit median untuk semua kategori risiko berada pada 716, turun dari 724 pada periode sama tahun lalu. Kategori subprime didefinisikan sebagai skor di bawah 620 dan merupakan batas umum antara subprime dan prime.

Analis memperhatikan peningkatan terbaru di kategori hampir-prime, tetapi menyadari bahwa dua kuartal tidak cukup untuk menjadikan ini sebuah tren. Meskipun demikian, kategori super-prime, dengan skor di atas 760, masih menyumbang sebagian besar utang mobil yang ada.

Penyebab peningkatan ini mungkin terkait dengan pasar yang lebih kompetitif, di mana produsen dan pemberi pinjaman mobil berusaha meningkatkan volume penjualan, meski dengan risiko yang sedikit lebih tinggi. Selain itu, adanya pertumbuhan jumlah konsumen di rentang 620 hingga 659 juga terlihat, mencerminkan ekonomi “bentuk-K”, dimana ada pembagian antara konsumen super-prime dan yang relatif kurang beruntung.

Dalam beberapa bulan terakhir, nilai utang di kategori ini meningkat drastis, dengan nilai pengajuan utang di rentang tersebut melenting 55,4% dibandingkan kuartal kedua 2025. Pada kuartal kedua 2026, kategori ini menyumbang 13% dari seluruh pengajuan, naik dari 9,4% tahun lalu.

Perusahaan pembiayaan captive yang dimiliki oleh grup dealer besar juga berkontribusi terhadap kenaikan ini, dengan lebih bersedia mengambil pinjaman berkisar di atas dan di bawah batas subprime. Sementara itu, tingkat tunggakan dalam sektor ini meningkat, namun tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa konsumen yang ada semakin lengah dalam pembayaran.